Selasa, 27 Maret 2012

Kode Etik Pengawas Sekolah

KODE ETIK PENGAWAS SEKOLAH

  1. DALAM MELAKSANAKAN TUGAS, SENANTIASA BERLANDASKAN IMAN DAN TAQWA,SERTA MENGIKUTI PERKEMBANGAN ILMU  PENGETAHUAN DAN TEKNOLQGI
  2. MERASA BANGGA MENGEMBAN TUGAS SEBAGAI PENGAWAS
SEKOLAH
  1. MEMILIKI PENGABDIAN YANG TINGGI DALAM MENEKUNI
TUGAS SEBAGAI PENGAWAS SEKOLAH
  1. BEKERJA DENGAN PENUH RASA TANGGUNG JAWAB DALAM
     TUGASNYA SEBAGAI PENGAWAS SEKOLAH
  1. MENJAGA CITRA DAN NAMA BAIK SELAKU PEMBINA DALAM
      MELAKSANAKAN TUGAS SEBAGAI PENGAWAS SEKOLAH
  1. MEMILIKI DISIPLIN YANG TINGGI DALAM MELAKSANAKAN
TUGAS PROFESI SEBAGAI PENGAWAS SEKOLAH
  1. MAMPU MENAMPILKAN KEBERADAANNYA SEBAGAI APARAT
 DAN TQKOH YANG DITELADANI
  1. SIGAP DAN TERAMPIL UNTUK MENAGGAPI DAN MEMBANTU
      MEMECAHKAN MASALAH-MASALAH YANG DIHADAPI
      APARAT BINAANNYA
  1. MEMILIKI RASA KESETIAKAWANAN SOSIAL YANG TINGGI
BAIK TERHADAP APARAT BINAAN MAUPUN TERHADAP SESAMA PENGAWAS SEKOLAH

Pendidikan Karakter.

Para ahli pendidikan mengatakan bahwa terdapat 4 Sumber Nilai Pendidikan Karakter yang antara lain

1. Agama

masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.

2. Pancasila

Negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya, dan seni. Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilainilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara.

3. Budaya

Sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakat itu. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa.

4. Tujuan Pendidikan Nasional

Sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Inilah 4 nilai Pendidikan Karakter yang harus dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa sesuai yang dijelaskan dalam Pedoman pendidikan karakter resmi kementrian pendidikan nasional.

Rabu, 21 Maret 2012

Hasil Uji Kompetensi guru 2012

Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan
Nomor 12344/J/KP/2012 tanggal 16 Maret 2012
tentang Penetapan Kelulusan Peserta Uji Kompetensi Awal Sertifikasi Guru Dalam Jabatan Tahun 2012, dengan ini diumumkan peserta yang dinyatakan lulus UKA dan berhak mengikuti pendidikan dan latihan profesi guru (PLPG) tahun 2012 sebanyak 248.733 orang.
untuk melihat nama nama peserta yang lulus UKA, langsung saja pergi kesini

Senin, 19 Maret 2012

LANGKAH-LANGKAH PENULISAN BUTIR SOAL


            1. Menentukan Tujuan Tes/soal
Penyusunan tes diawali dengan menentukan tujuan yang ingin dicapai dengan menyelenggarakan tes tersebut. Dalam tes bahasa pada umumnya tes disusun sebagai tes hasil belajar. Tes hasil belajar yang mempunyau tujuan utama yaitu untuk menentukan tingkat penguasaan siswa terhadap bahan pelajaran yang telah diajarkan sampai tahap tertentu hingga tes tersebut diselenggarakan. Selain tujuan utama tersebut biasanya tes dilakukan juga dengan tujuan untuk mengetahui kesulitan belajar siswa, dan kelemahan butir-butir tes.
  1. Penentuan jenis dan bentuk soal
Dalam menentukan jenis tes yang akan digunakan perlu memperhatikan beberapa faktor yaitu jumlah peserta tes, banyak sedikitnya bahan yang harus dicakup, waktu yang tersedia, kemampuan pengajar untuk mengembangkan soal, kemudahan penyelenggaraan, kemudahan pelaksanaan koreksi dan penilaian. Semua itu perlu diperhatikan  dengan seksama agar jenis dan bentuk tes yang digunakan dapat benar-benar mengukur tingkat kemampuan dan pemahaman siswa.
Faktor-faktor tersebut di atas mempunyai peranan yang sangat banyak pada penentuan soal yang akan dibuat. Misalnya soal esai, mempunyai kemudahan dalam penyusunan soalnya tetapi dalam pengoreksian akan membutuhkan waktu yang lama dan memerlukan pikiran yang tidak sedikit. Soal esai berbanding terbalik dengan soal pilihan ganda, soal pilihan ganda dalam penyusunanya memang agak berat dan memakan waktu yang lama dan dalam jumlah yang banyak, tetapi pada akhirnya ketika memeriksa hasil jawaban yang dikerjakan akan sangat mudah dan cepat.
  1. Menyusun Kisi-kisi
Kisi-kisi merupakan deskripsi mengenai ruang lingkup dan isi materi yang akan diujikan. Tujuan penyusunan kisi-kisi sebelum membuat soal adalah untuk menentukan ruang lingkup dan tekanan soal yang setepat-tepatnya sehingga dapat menjadi petunjuk dalam menulis soal. Dengan adanya penyusunan kisi-kisi maka akan sangat mudah dalam mendeteksi poin mana yang tepat digunakan sebagai tes dari berbagai  kompetensi dasar.
  1. Penulisan Butir Soal
Tahap penulisan butir soal dimulai dengan menentukan jumlah soal yang perlu disusun. Penulisan butir tes pertama-tama mungkin menghasilakan butir soal yang memeliki berbagai kekurangan dan kelemahan. Dengan kenyataan demikian maka sebagai persediaan penyusunan butir soal diperlukan jumlah yang lebih besar dari klebutuhan karena pada akhirnya butir-butir tersebut  akan dipilih yang sesuai dengan kompetensi yang diujikan. Selain membuat butir-butir soal perlu juga disusun kunci jawaban yang nantinya akan digunakan sebagi acuan penilaian. Setelah mendapatkan butir-butir soal selanjutnya kita harus memilih lagi butir soal mana yang sekiranya tepat untuk dipakai.
  1. Pemantapan Butir Soal atau Validasi Soal dan Kunci Jawaban
Usaha pemantapan yang paling baik dan bertanggung jawab dalam pengembangan tes dan butir-butirnya dapat diusahakan melalui rangkaian uji coba. Uji coba biasanya dilakukan hanya pada pengembangan tes berstandar yang luas jangkauan pernggunaanya dan penting kegunaanya. Usaha pemantapan ini bertujuan untuk mengetahui kesesuain, kelebihan, dan kekurangan dari soal yang telah disusun.
Setelah soal benar-benar teruji validitasnya, kemudian kunci jawaban yang sudah dibuat bersamaan pembuatan butir soal diuji kembali kebenaranya dan kemudian disusun sesuai dengan urutan soal yang telah dibuat.
  1. Merakit Soal Menjadi Perangkat Tes
Pembuatan soal tidaklah lengkap tanpa disertai dengan penyusunan soal  menjadi perangkat tes yang baik. Dalam tahapan yang terakhir ini naskah soal yang sudah ada disusun menjadi alat tes yang sempurna disertai jawabanya.
Kunci jawaban yang dibuat harus sesuai dengan susunanya dengan soal yang telah tersusun. Perlu diperhatikan pula dalam membuat jawaban untuk soal objektif berupa jawaban pendek, jawaban berupa alternatif jawaban benar dan untuk soal esai jawaban berupa rambu-rambu jawaban yang benar. Selain jawaban, cara penilaian dan mengolah sekor juga harus dibuat agar tidak terjadi kesalahan dalam penilaian.

Selasa, 13 Maret 2012

Contoh 50 Judul PTK (Penelitian Tindakan Kelas)

  1. UPAYA MENINGKATKAN GAIRAH BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPS DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR
  2. UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SD MELALUI PERANAN HADIAH SEBAGAI PERANGSANG TIMBULNYA KOMPETENSI
  3. UPAYA MENINGKATKAN KEDISPLINAN SISWA MELALUI PENERAPAN HUKUMAN
  4. UPAYA MEMINIMALKAN MISKONSEPSI DAN MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP-KONSEP IPA MELALUI PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK BAGI SISWA KELAS IV SD
  5. UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA SI SD DENGAN PENDEKATAN KETRAMPILAN PROSES
  6. UPAYA MENGATASI KESULITAN BELAJAR MELALLUI PEMBERIAN BIMBINGAN BELAJAR DI SD WANAGIRI KAB. KULON PROGO YK  
  7. PENINGKATAN KEDISPLINAN SISWA MELALUI KETELADANAN GURU SD NEGERI PRAWIROTAMAN
  8. UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATA PELAJARAN IPA MELALUI PEMBELAJARAN
  9. PENGARUH PERILAKU ANAK YANG MENYIMPANG TERHADAP KEBERHASILAN PROSES PEMBELAJARAN DI SDN DUKUH II YK PADA MURID KELAS I CAWU 2 TH PELAJARAN 2001/2002
  10. UPAYA MENINGKATKAN PEMBELAJARAN FISIKA PADA SEKOLAH SLTP MELALUI OPTIMALISASI KEGIATAN LABORATORIUM BERBASIS COOPERATIVE LEARNING SEBAGAI IMPLEMENTASI KBK
  11. PERANAN BERTANYA SISWA SD DALAM MENINGKATKAN PROSES BELAJAR MENGAJAR MATEMATIKA
  12. PERANAN PENGGUNAAN METODE CERAMAH DAN TANYA JAWAB TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN IPS TERPADU KELAS VI CAWU I SD MUHAMMADIYAH 4 SURAKARTA TH PELAJARAN 2001/2002
  13. UPAYA MENGAKTIFKAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SD MELALUI PENDEKATAN RANI
  14. MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF LEARNING UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA KELAS IV SDN I MADUKARA
  15. PERANAN PENGUATAN DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA
  16. MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA DENGAN STRATEGI PAKEM KELAS IV SDN SORONALAN I TH AJARAN 2003/2004
  17. UPAYA MENINGKATKAN MINAT DAN MOTIVASI BELAJAR PADA MATA PELAJARAN IPS MELALUI METODE CERAMAH BERVARIASI SISWA KELAS V CAWU I DI SDN 2 KARANGTURI MREBET PURBALINGGA
  18. PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SD MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA SECARA EFEKTIF
  19. UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR IPA MELALUI PENDEKATAN EKSPLORATORY DISCOVERY
  20. PERANAN MEDIA DALAM MENINGKATKAN KETRAMPILAN MEMBACA DI KELAS RENDAH
  21. UPAYA MENUMBUHKAN BAKAT DAN KREATIVITAS SISWAKELAS IV SDN WANADADI DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY LEARNING
  22. UPAYA MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN METODE LABORATORY
  23. UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPA DI SD MELALUI PENDEKATAN SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT
  24. PENINGKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SD MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA SECARA EFEKTIF
  25. UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN BAHASA INDONSESIA SD DENGAN MENGEFEKTIFKAN PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR SERI
  26. PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN PPKN. MELALAUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PORTOPOLIO DI KELAS 11 – a SLTPN 12 BANDUNG
  27. UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR IPA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING
  28. UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPA DI SD MELALU PENDEKATAN INKUIRI
  29. UPAYA MENINGKATAKAN KREATIVITAS SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME
  30. UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPA DENGAN METODE DEMONSTRASI
  31. UPAYA MENINGKATKAN EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS SEBAGAI PELAJARAN MUATAN LOKAL DI SDN PERCOBAAN 4 WATES
  32. UPAYA MENGOPTIMALKAN BIMBINGAN KONSELING DI SD UNTUK MENGATASI KESULITAN BELAJAR ANAK
  33. PERANAN ALAT PERAGA TERHADAP PENINGKATAN MINAT BELAJAR MATEMATIKA
  34. UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN BAHASA LISAN (BERBICARA) MELALUI METODE SOSIODRAMA
  35. UPAYA MENGATASI KESULITAN BELAJAR MEMBACA MELALUI PENGINTEGRASIAN PERMAINAN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
  36. PERANAN PENGGUNAAN METODE CERAMAH DAN TANYA JAWAB TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN IPS TERPADU KELAS VI CAWU I SD MUHAMMADIYAH 4 SURAKARTA TH PELAJARAN 2001/2002
  37. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEAKTIFAN MURID DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DITINJAU DARI PENGGUNAAN MEDIA DAN KONDISI KELAS PADA SEKOLAH DASAR
  38. MELALUI PERPUSTAKAAN DAPAT MENINGKATKAN BELAJAR BAGI SISWA DI KELAS IV
  39. UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN SISWA MELALUI KETELADANAN GURU SDN I BANDINGAN
  40. UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI MATA PELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN MASTERY LEARNING
  41. UPAYA MENGATASI KESULITAN BELAJAR MELALUI PEMBERIAN BIMBINGAN BELAJAR DI SD WANIGIRI KAB. KULON PROGO YK
  42. EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR SERI GUNA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN BAHASA INDONESIA SISWA KELAS IV SDN PUJOKUSUMAN III YK
  43. MENINGKATKAN KETRAMPILAN SISWA MELALUI OPTIMALISASI PERPADUAN HANDS-ON DAN MINDS-ON MENGGUNAKAN KIT IPA DALAM PEMBELAJARAN IPA DI SDN GUMIWANG
  44. UPAYA MENGATASI MASALAH BELAJAR SISWA KELAS III MELALUI BIMBINGAN BELAJAR DI SDN KARANGKOBAR I
  45. UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR IPA DENGAN PENDEKATAN (STM) SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT
  46. PERANAN HADIAH SEBAGAI PERANGSANG TIMBULNYA KOMPETISI DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SD
  47. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEAKTIFAN MURID DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DITINJAU DARI PENGGUNAAN MEDIA DAN KONDISI KELAS PADA SEKOLAH DASAR
  48. PERANAN METODE INKUIRI DAN ALAT PERAGA TIGA DIMENSI DALAM PENINGKATAN PRESTASI PEMBELAJARAN IPA DI KELAS IV SD
  49. UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA DI KELAS IV SDN I BABADAN DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOSTRUKTIVISME
  50. UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR MATEMATIKA PADA ANAK KELAS V SDN SINGAMERTA I MELALUI METODE INKUIRI

Senin, 05 Maret 2012

INSTRUMEN TELAAH RPP

INSTRUMEN TELAAH RPP
Nama Guru    :
Nama Sekolah    :
Alamat Sekolah    : 

    IDENTITAS RPP                   
1    Memuat : Satuan Pendidikan, Mata Pelajaran, Kelas, Semester, SK, KD, Indikator, Alokasi Waktu              
2    SK dan KD disalin dari silabus atau dari standar isi                   
3    Indikator di salin dari silabus (penjabaran dari kompetensi dasar)                   
  1.     TUJUAN PEMBELAJARAN                   
4    Menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar               
 
    MATERI AJAR                   

5    Memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan                   
6    Ditulis secara berurutan sesuai dengan dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi                   

    ALOKASI WAKTU                   

7    Disesuaikan dengan kebutuhan untuk pencapaian kompetensi                    

    METODE PEMBELAJARAN                   

8    Sesuai dengan karakteristik peserta didik                   
9    Sesuai dengan karakteristik rumusan indikator dan kompetensi yang akan dicapai                    
10    Bervariasi                   
    KEGIATAN PEMBELAJARAN                   

    a.    Kegiatan Pendahuluan                   
11    Menentukan cara-cara memotivasi dan memfokuskan perhatian siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran                    
    b.    Kegiatan Inti                   
12    Menentukan proses pembelajaran secara interaktif, inovatif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif                       
13    Urutan penulisan kegiatan menunjukkan pengambaran proses pembelajaran yang sistematis                    
    c.    Penutup                   
14    Menentukan akhir proses pembelajaran dengan merencanakan siswa merangkum atau membuat kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut                  

Minggu, 04 Maret 2012

Penulisan Butir Soal

F. Pengertian dan Konsep
    1. Penulisan butir soal adalah tahapan untuk pelaksanaan tes baik itu merupakan tes tertulis ataupun tes
        lisan;
    2. Tes adalah pemberian sejumlah pertanyaan yang jawabannya dapat benar atau salah (Rancangan
        Penilaian Hasil Belajar, Direktorat PSMA, 2008);
    3. Tes adalah alat penilaian berupa pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada siswa untuk mendapat
        jawaban siswa dalam bentuk lisan (tes lisan) atau tulisan (tes tertulis) atau dalam bentuk perbuatan (tes
        tindakan);
    4. Tes tertulis adalah tes yang menuntut peserta tes memberi jawaban secara tertulis berupa pilihan dan
        atau isian;
    5. Tes lisan adalah tes yang dilaksanakan melalui komunikasi langsung (tatap muka) antara peserta didik
        dengan pendidik, pertanyaan dan jawaban diberikan secara lisan;
    6. Tes perbuatan adalah tes yang meminta peserta didik melakukan perbuatan/menampilkan 
         /mendemonstrasikan keterampilannya, dapat berupa hasil kinerja, hasil penugasan (projek), hasil karya,
        dan lain-lain;
    7. Tujuan tes memiliki penekanan yang berbeda-beda, misalnya untuk tujuan tes prestasi belajar,
        diagnostik, atau seleksi;
    8. Kisi-kisi adalah suatu format atau matriks yang memuat deskripsi kompetensi dan materi yang akan
       diujikan dan dijadikan pedoman untuk menulis soal;
    9. Kisi-kisi yang disajikan dalam bentuk format terdiri atas komponen-komponen:
         a. Identitas kisi-kisi yang sekurang-kurangnya memuat nama sekolah, mata pelajaran, jenis kurikulum,
             jumlah soal, bentuk soal, alokasi waktu, dan penyusun soal.
         b. Standar Kompetensi/Kompetensi Dasar/Indikator Pencapaian
         c. Bahan Kelas/Semester
         d. Materi Pokok
         e. Indikator Soal
         f. Nomor soal
   10. Kisi-kisi yang baik memenuhi kriteria sebagai berikut:
         a. Mewakili isi silabus/kurikulum atau materi yang telah diajarkan secara tepat dan proporsional;
         b. Komponen-komponennya diuraikan secara jelas dan mudah dipahami;
         c. Kompetensi yang mau diukur atau materi yang hendak ditanyakan dapat dibuatkan soalnya;
   11. Indikator adalah karakteristik, ciri-ciri, tanda-tanda, perbuatan, atau respons yang harus dapat
         dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik untuk menunjukkan bahwa peserta didik telah memiliki
         kompetensi dasar tertentu (Rancangan Penilaian Hasil Belajar, Direktorat Jenderal Manajemen
         Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat PSMA, 2008);
   12. Indikator soal dirumuskan dengan singkat dan jelas. Syarat indikator yang baik adalah:
         a. Menggunakan kata kerja operasional (perilaku khusus yang tepat);
         b. Menggunakan satu kata kerja operasional untuk soal objektif dan lebih dari satu kata kerja
             operasional untuk soal uraian/tes perbuatan;
         c. Dapat dibuat soal atau pengecohnya(untuk soal objektif);
         d. Memperhatikan urgensi, kontinuitas, relevansi, dan keterpakaian (UKRK)
   13. Model penulisan indikator soal terdiri atas dua macam, yaitu:
         a. Penempatan kondisinya di awal kalimat, dipergunakan jika soal disertai dengan dasar pernyataan
             (stimulus), misalnya berupa kalimat, paragraf, gambar, grafik, dan lain-lain;
         b. Penempatan objek dan perilaku yang harus ditampilkan pada awal kalimat, dipergunakan jika soal
             tidak disertai dengan dasar pernyataan (stimulus).
   14. Dalam melakukan penulisan butir soal, hendaknya mengacu pada:
         a. prinsip-prinsip penilaian yaitu sahih, objektif, adil, terpadu, terbuka, menyeluruh dan
             berkesinambungan, sistematis, acuan kriteria, akuntabel;
         b. kaidah-kaidah penulisan soal.
   15. Tim Pengembang Kurikulum sekolah yang selanjutnya disebut TPK sekolah adalah tim yang ditetapkan
         oleh Kepala Sekolah yang bertugas untuk merancang dan mengembangkan kurikulum, yang terdiri atas
         wakil kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, guru BK/konselor, dan kepala sekolah sebagai
         ketua merangkap anggota;
   16. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,
         melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan 
         formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (UU Guru Tahun 2005);
  17. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses
        pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan